==================(Script Cookie)
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kapan Sebenarnya Antibiotika Dibutuhkan Oleh Tubuh Manusia?

Kapan Sebenarnya Antibiotika Dibutuhkan Oleh Tubuh Manusia?
Kapan Sebenarnya Antibiotika Dibutuhkan Oleh Tubuh Manusia?


Di masyarakat penggunaan antibiotik sudah sangat banyak sekali. Masyarakat bisa dengan mudah mendapatkannya, baik di apotek dan di depot obat, menyimpannya di rumah, bahkan sampai memaksa dokter memberikan antibiotika.

Idealnya, antibiotika itu diberikan kepada orang yang terindikasi saja dan bisa baru bisa didapatkan kalau ada resep dokter.

Kenapa hal demikian dibiarkan? Padahal menggunakan antibiotika secara luas pada manusia, yang belum tentu sesuai indikasi akan menyebabkan resistensi antibiotika secara signifikan. Mungkin, bisa terjadi multi resistensi terhadap banyaknya jenis obat.

Resistensi obat bisa megakibatkan turunnya kemampuan antibiotika dalam mengobati penyakit dan infeksi pada manusia.

Hal tersebut dapat menyebabkan pengobatan yang telah dilakukan tidak efektif, mengakibatkan meningkatnya efek samping penggunaan obat, meningkatnya pembiayaan pada pengobatan,  meningkatkan angka kesakitan dan serta angka kematian pasien.

Kondisi pemberian antibiotika, yang menyebabkan terjadinya kekebalan bakteri yang berbahaya merupakan pengertian dari resistensi antibiotika. 

Bahwa antibiotika tidak mampu untuk membunuh kuman berbahaya. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat, selain dapat mengakibatkan resistensi, juga dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya dan reaksi alergi.

Asal usul penggunaan antibiotika adalah berdasarkan Postulat Koch yang membuktikan sakit klinis disebabkan berbiaknya kuman dalam tubuh.

Jika kuman di manusia dibunuh, maka dia akan sembuh dari sakitnya, jadi ketika manusia sakit harus diberi antibiotika.

Tidak semua sakit disebabkan kuman, sehingga penggunaan antibiotika seharusnya untuk mengobati penyekit infeksi yang disebabkan kuman saja, membunuh kuman pathogen penyebab sakit, menekan jumlah kuman, eradikas dan eliminasi kuman , dosis yang cukup dan tepat.

Penggunaan yang tidak tepat ialah tidak ada infeksi bukan infeksi bakteri, terlalu sering, terlalu banyak atau tinggi, terlalu lama. Dengan demikian menyebabkan tidak efisien, tidak bermanfaat, menimbulkan resistensi, menyebabkan perubahan ekosistem internal.

Bagaimana mencegah pengguna antibiotik yang demikian? jawabnya tentu diperlukan kerjasama.  Penggunaan antibiotika harus diketahui oleh semua pihak.

Dimulai dari seorang dokter, baik dokter spesialis, maupun dokter umum, harus benar-benar memberikan resep antibiotika yang sesuai indikasi, hanya memberikan resep jika ada indikasi. 

Regulasi jelas harus dibuat dan dijalankan, bahwa antibiotika tidak boleh diberikan bila tidak ada resep dari dokter. Apotek harus tegas menolak pembelian obat antibiotika, jika si pasien tidak membawa resep dokter.

Jika hal itu dilanggar oleh apotek, maka ada sanksi yang jelas diberikan pihak berwenang akan hal ini.

Dengan begitu kita bisa mengurangi beban biaya pengobatan yang tidak perlu, mencegah pengobatan yang sia-sia, mengurangi atau mungkin bisa menghilangkan kemungkinan terjadinya resistensi antibiotika di masyarakat.

Salah satu cara untuk mengurangi atau mengendalikan resistensi bakteri, yaitu dengan penggunaan antibiotik secara rasional.

WHO menyebutkan kriteria pemakaian obat yang rasional adalah sebagai berikut:

Sesuai indikasi penyakit, berdasarkan keluhan pasien, berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang akurat, diberikan sesuai dengan dosis yang tepat sesuai perhitungan usia, berat badan dan kronologis penyakit, pemberian dengan interval waktu yang tepat, jarak minum obat sesuai aturan pemakaian, lama pemberian tepat, dalam kasus tertentu memerlukan pemberian obat dalam  jangka waktu tertentu pula.

Obat diberikan harus efektif dan mutunya terjamin, jangan memberikan obat yang kadaluarsa, hindari memberi obat  yang tidak sesuai dengan penyakit, obatnya tersedia sepanjang waktu dengan harga terjangkau, mudah didapatkan, harganya murah dan meminimalkan efek sampingan alergi pada obat.

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba Di Rumah Sakit, dapat digunkan sebagai acuan rumah sakit dalam pengendalian resistensi antimikroba agar program pengendalian resistensi antimikroba di rumah sakit berlangsung baku, terukur dan terpadu. 

Dengan adanya upaya ini, diharapkan angka resistensi antibiotia/mikroba dapat dihilangkan.

Tulisan ini disadur dari tulisan dr. Aslinar, SpA, M. Biomed

Posting Komentar untuk "Kapan Sebenarnya Antibiotika Dibutuhkan Oleh Tubuh Manusia?"