Langsung ke konten utama

Pengertian Wasting, Stunting dan Gizi Buruk, Cara Mencegah dan Mengatasinya

Pengertian Wasting, Stunting dan Gizi Buruk, Cara Mencegah dan Mengatasinya
Pengertian Wasting, Stunting dan Gizi Buruk, Cara Mencegah dan Mengatasinya

Pengertian Wasting, Stunting dan Gizi Buruk, Cara Mencegah dan Mengatasinya. Stunting adalah kondisi tinggi badan seseorang lebih pendek dibandingkan dengan tinggi badan orang lainnya pada umumnya yang seusinya. Penyebab stunting sendiri, yaitu kurangnya asupan gizi yang diterima janin atau bayi, kini Stunting menjadi masalah yang serius di Indonesia.

Pengertian Stunting


Stunting artinya pendek, namun tidak semua anak pendek adalah stunting. Kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan di 1000 pertama kehidupan anak disebut Stunting. Kondisi seperti ini berefek sampai anak dewasa bahkan sampai lanjut usia.

Kekurangan gizi yang terjadi sejak di dalam kandungan sehingga menimbulkan ganguan pada pertumbuhan otak dan organ yang lain, mengakibatkan anak mudah berisiko terkena berbagai penyakit, seperti diabetes, gangguan jantung dan hipertensi. Ada dua syarat mengatakan seorang anak menderita stunting, yaitu mengalami infeksi kronis dan malnutrisi.

Apa yang dimaksud dengan Wasting? 


Wasting adalah kurus atau gizi kurang, yaitu kondisi gizi tidak sesuai dengan umur anak. Jika dimasukkan ke dalam grafik pertumbuhan, yaitu grafik berat bada menurut panjang badan atau berat badan menurut tinggi badan Z-Score. 

Dikatakan jika gizinya kurang, apabila nilainya berada diantara -3 SD sampai kurang dari -2 SD. Dikatakan severe wasting/sangat kurus atau gizi buruk, yaitu jika nilainya berada di bawah -3 SD. Untuk penilaian gizi buruk, saat ini ada penilaian tambahan untuk menegakkan diagnosis, yaitu dengan ukuran lingkar lengan atas.

Wasting merupakan penyebab terjadinya Stunting, wasting jika dibiarkan dalam tatalaksana yang tidak baik, maka akan jatuh ke dalam kondisi gizi buruk atau malnutrisi berat.

Apa yang harus dilakukan untuk mencegah Wasting, Stunting dan Gizi Buruk?Menurut riset dari Riskedas pada tahun 2018, saat ini proporsi status gizi kurang atau wasting atau kurus addalah 6,7%, turun jika dibandingkan pada tahun 2013 sebesar 6,8%, dan pada tahun 2007 sebesar 7,4.

Sedangkan proporsi status gizi buruk juga turun dari tahun 2007 sebesar 6,2 menjadi 5,3% di tahun 2013, dan pada tahun 2018 menjadi 3,5%. 30,8% angka stunting pada balita, 29,9% pada baduta, hal ini menunjukkan adanya penurunan, jika dibandingkan dengan Riskesdas tahun 2013, yaitu angka stunting dengan angka 37,2%. 

Namun, walaupun tren stunting ini mengalami penurunan, hal ini masih di bawah rekomendasi dari WHO, yaitu kurang dari 20%. Angka stunting di Indonesia masih tergolong tinggi dan memerlukan perhatian khusus.  Menurut kriteria yang disebutkan WHO, Provinsi yang ada di Indonesia termasuk kriteria serius, dengan prevalensi 10-14%, buruk 5-9% dan dapat diterima <5%.

Nusa Tenggara Barat dengan angka 14,4% angka gizi buruk tertinggi di Indonesia, disusul Gorontalo, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur.

Apa yang harus dilakukan jika mengalami gizi buruk? Dampak yang terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk ialah meningkatnya angka kesakitan, kematian dan disabilitas. Hal itu merupakan dampak jangka pendek, sedangkan dampak jangka panjang.

Yakni tidak tercapainya potensi saat dewasa, berpengaruh terhadap sistem kekebelan tubuh, perawakan pendek, menurunnya kecerdasan, meningkatnya risiko berbagai penyakit, disaat dewasa kelak, seperti sakit hipertensi, sakit jantung, keganasan, dan penyakit degeneratid lainnya. 

Upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk mencegah jangan sampai balita dengan gizi kurang jatuh ke dalam kondisi gizi buruk. Upaya yang dilakukan pemerintah disebut sebagai upaya pengelolaan gizi buruk terintegrasi yang terdiri atas:

  • 01. Bergeraknya peran aktif masyarakat, dengan meningkatnya pengetahuan kepada tokoh masyarakat, kader beserta keluarga, sehingga mereka bisa mengenal masalah gizi di lingkungan dan segera membawa ke layanan kesehatan. 
  • 02. Layanan rawat jalanan balita gizi buruk tanpa komplikasi, rekomendasi dahulu, bahwa setiap balita gizi buruk dilaksanakan dengan rawat inap. Namun, hal ini tidak dilakukan lagi, jika gizi buruk tanpa komplikasi, maka bisa dilakukan rawat jalan saja. 
  • 03. layanan rawat inap dilakukan pada semua bayi yang umurnya di bawah 6 bulan, atau tanpa komplikasi, dan semua balita gizi buruk dengan komplikasi. Komplikasi yang dimaksud ialah tidak mau makan sama sekali, radang paru, pucat karena kekurangan sel darah merah, demam tinggi dan kekurangan cairan bisa karena diaere, muntah atau sebab lainnya.
  • 04. Tata laksana gizi yang kurang. Seorang anak dengan gizi yang kurang harus dilakukan tatalaksana dengan baik, karena jika dibiarkan bisa jatuh ke dalam kondisi gizi buruk.

Apa yang perlu diketahui dan diperbuat oleh kedua orang tua yang sudah mempunyai balita?

Kapan seharusnya orang tua mempersiapkan diri mereka untuk dapat mencegah terjadinya kondisi Wasting, Stunting dan Gizi Buruk?

Para kedua orang tua harus membekali diri mereka dengan pengetahuan tentang 1000 HPK. Artinya ialah persiapan dimulai sejak ibu dinyatakan hamil sampai kemudian bayinya lahir, sampai berusia 2 tahun. Jadi, 9 bulan ada di dalam kandungan atau 270 hari, dan usia 2 tahun atau 730 hari, jika ditotalkan akan mencapai 1000 hari.

Saat hamil si ibu melakukan pemeriksaan yang rutin, bisa ke Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit ataupun bidan maupun dokter spesialis kandungan.

Asupan nutrisi gizi seimbang juga lengkap bagi para ibu hamil, rutin mengkonsumsi suplemen yang diperlukan di saat hamil, berupa asam folat, zat besi. Lakukan kontrol yang teratur untuk mengetahui, apakah ada faktor risiko kelahiran yang dapat membahayakan, hal ini harus terus dilakukan oleh semua ibu hamil.

Selanjutnya, di saat setelah bayi lahir, maka berikan ASI ekslusif selama 6 bulan kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI yang mengandung gizi yang lengkap.

Gizi yang lengkap adalah yang mengandung semua zat gizi yang baik, berupa karbohidrat, protein terutama protein hewani, lemak, vitamin, mineral dan mikronutrien lain baik itu zat besi ataupun zinc.

Setiap orang tua diharapkan sering membawa anaknya untuk melakukan pemeriksaan secara rutin setiap bulannya ke pusat pelayanan kesehatan. Untuk dilakukan imunisasi, mengetahui ukuran pertambahan berat badan, lingkar kepala, panjang badan, konsutasi perkembangan anak disesuaikan dengan umur.

Dengan begitu jika ada hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak,  maka akan dapat segera diberikan intervensi. Diharapkan para Ayah dan Bunda agar rutin membawa anaknya kontrol ke Posyandu dan Puskesmas. 

Ayah dan Bunda akan mendapatkan informasi yang bermanfaat dan tentunya gratis, sehingga mengakibatkan kondisi Wasting, Stunting dan Gizi Buruk dapat dicegah.

Komentar